Hari Raya Kematian

Hari Raya Kematian

Semenjak Timur terkesima dengan apa yang telah dicapai Barat. Menjadikan Barat sebagai guru. Kiblat kehidupan. Mazhab dalam peradaban. Maka semua nilai di Timur ditimbang dengan menggunakan standar Barat. Jika ia unik menurut perspektif Barat. Maka uniklah dia. Jika hebat menurut…

Read More
Bicara Konflik Melalui Produk Seni

Bicara Konflik Melalui Produk Seni

Komunitas Kanot Bu pernah menjadi salah satu komunitas peserta Piasan Seni, satu event seni yang diselenggarakan Pemerintah Kota Banda Aceh. Sejak pertama kegiatan ini diselenggarakan, tahun 2012, Komunitas Kanot Bu selalu mendapat kesempatan mengisi salah satu stand dengan berbagai karya-karya…

Read More
Pengantar Buku Judul Di Belakang

Pengantar Buku Judul di Belakang

SMP dulu, saya sering mendengar kata urbanisasi, transmigrasi dan imigrasi. Dari tiga kata di atas, paling akrab bagi saya dan kawan-kawan di Aceh adalah transmigrasi. Terutama saat rezim penguasa Orde Baru menggalakkan program memindahkan orang dari pulau Jawa ke pedalaman…

Read More
Telah Sampai Dengan Selamat Sentosa Buku Menelisik Penghidupan Petani Cengkeh

Telah Sampai Dengan Selamat Sentosa Buku Menelisik Penghidupan Petani Cengkeh

Setelah sejenak memasuki masa keemasan pertanian cengkeh di akhir 1970 dan awal 1980-an, akses para pemilik kebun cengkeh ke lahan tertutup akibat konflik bersenjata berkepanjangan antara gerilyawan GAM melawan TNI. Perang tersebut menyebabkan mereka tidak bisa mengakses lahan-lahan kebun cengkeh mereka sendiri yang umumnya terletak jauh di luar pusat pemukiman, termasuk dalam kawasan hutan di lereng-lereng gunung dan punggung-punggung bukit. Pemberlakuan Daerah Operasi Militer (DOM) pada masa perang saudara itu memutus semua jalur akses pemilik kebun ke kebun-kebun mereka. Akibatnya, selama puluhan tahun, tanaman cengkeh di kebun-kebun tersebut menjadi tak terurus, bahkan sebagian besarnya rusak dan mati. ~ Fawaz, dkk., (2017), Menelisik Penghidupan Petani Cengkeh; Kaji Kasus Lima Provinsi. Yogyakarta: KNPK, hal. 142-143.

Read More
Bagaimana Kami Mengisi Damai

Bagaimana Kami Mengisi Damai

Kurun waktu lebih kurang 30 tahun, perang telah meluluhlantakkan segala hal. Tsunami datang menggenapi segala keganjilan-keganjilan akibat perang. Lalu, atas nama kemanusiaan—memang sudah seharusnya, damai meng-ada dibarengi mengucurnya triliunan dana bantuan, hingga: ada satu masa ketika Aceh terlibat dalam euforia…

Read More