IMG 20180607 234907

Pengantar Buku Judul di Belakang

SMP dulu, saya sering mendengar kata urbanisasi, transmigrasi dan imigrasi. Dari tiga kata di atas, paling akrab bagi saya dan kawan-kawan di Aceh adalah transmigrasi. Terutama saat rezim penguasa Orde Baru menggalakkan program memindahkan orang dari pulau Jawa ke pedalaman Aceh. Politik transmigrasi Soeharto berjalan lancar bahkan bukan hanya di Aceh. Semua pulau nusantara nyaris rata mendapat kiriman manusia puluhan ribu banyaknya dari tanah Jawa.

Mengirim manusia dari pulau Jawa ke tanah tujuan baru macam Sumatera misalnya, jelas tidak semudah mengirimkan paket dendeng Aceh 2 kg ke Jakarta yang cuma 35 ribu rupiah perkilo-nya.

Lebih mudah lagi, pindah dari satu rumah kotrakan ke rumah rumah sewa lain. Tinggal angkat koper, kembalikan kunci rumah, berangkat kita. Dengan atau tanpa meu’ah desya kepada pemilik rumah lama.

Pindah rumah dan pergi ikut program transmigrasi adalah dua aktifitas dalam hidup yang demikian menguras tenaga dan finansial serta mungkin sedikit murung. Tidak demikian dengan aktifitas migrasi di dunia maya. Selain senang-senang dan tak terikat administrasi pada dinas pendudukan dan pencatatan sipil, dunia maya hanya bermodal jempol dan kuota internet cukup. Selebihnya, butuh kemampuan menatap layar gawai berjam-jam.

Kapan pertama anda bikin ‘rumah’ di dunia maya, baik itu email, ruang chatting berbasis akun yahoo dan blog? Awal-awal punya akun media sosial, sudah pasti seperti transmigran yang baru menginjak kaki di tanah tujuan baru. Tanpa teman, bingung dan tak banyak yang bisa dikerjakan.

Bagi warga trans, hari-hari pertama datang, dengan keuletan yang dibawa dari tanah asal, mereka bercocok tanam tumbuhan cepat panen macam singkong, kangkung dan kacang panjang. Di facebook, awal-awal membuat akun, nyaris tidak tahu harus berbuat apa bahkan hampir setahun lebih. Tak ada ‘kangkung’ walau dalam bentuk status pendek tidak penting. Sementara mungkin orang trans sudah memanen kacang panjang sambil membersihkan halaman rumah.

Ternyata, facebook bukan tempat yang nyaman. Di tengah histeria ledakan telpon pintar dengan segala kemudahan yang ditawarkan, facebook menjadi hunian yang riuh, tanpa seleksi dan melimpahnya orang berbagi berita palsu. Sebagian orang bermigrasi ke twitter. Katanya, twitter membuat aturan ketat dengan hanya membatasi jumlah kata di postingan. Juga, penghuni twitter lebih elegan karena hemat postingan.

Banyak juga orang ‘merantau’ ke youtube akhirnya dengan harapan bisa mendapat keuntungan finansial dari video yang diupload. Untuk mereka penghuni youtube, disebut youtuber. Oh ya, juga untuk pemukim facebook disebut facebooker. Entah apa sebutan untuk para pengguna twitter, saya tidak tahu.

Sama seperti perantau di dunia nyata, di youtube tidak semua orang bernasib mujur. Banyak orang yang demi mengejar penonton memposting video-video palsu potongan-potongan dari berbagai sumber. Youtube benar-benar ketat dengan menghapus postingan yang ketahuan melanggar hak cipta. Bagi youtuber tak kreatif, harus berangkat mencari tanah baru.

Instagram hadir dengan postingan berbasis foto dan video. Walau tak mengganjar dengan pendapatan finansial, banyak orang bisa memamerkan foto mesra dengan pacar dan keluarga. Atau, memberi tahu orang sedang makan di resto mana dan tidur di hotel mana. Semua disyukuri dalam keadaan dimana media pencitraan diri seluruhnya dikuasai politisi.

Untuk mereka orang-orang instagram, ditabali dengan Instagramer. Sungguh mudah. Tinggal menambahkan “er”, lengkap sudah tabalan itu.

Kami yang tulisannya terhimpun dalam buku ini, bisa dikatakan sekumpulan perantau media sosial yang sudah berkelana dari satu akun ke akun lain. Berbeda dengan imigran, kami berpindah platform medsos dengan hati riang dan tanpa paksaan. Namun begitu, Steemit tidak serta merta memberi status ‘warga’ bagi perantau sesaat setelah Sign Up. Butuh waktu lama untuk menjadi warganya dengan pasword yang tidak mudah dihafal.

Buku himpunan tulisan di steemit ini tergerak dihadirkan dengan alasan otentik dan murni hasil pemikiran sendiri. Penulis dalam buku ini bisa dipastikan adalah orang yang percaya pada kemampuan otak dan pikiran sendiri dengan kelebihan dan kekurangan dalam menuangkan hasil renungan. Untuk itu, dihadirkan ke dunia nyata hasil perantauan di dunia maya, menjadi semacam kewajiban, bahwa keberadaan penulis di dunia maya bukan hanya gentayangan semata.

Facebook, youtube, twitter dan instagram memang tak benar-benar kami tinggalkan setelah hunian baru diciptakan. Steemit ada dan kami berbondong-bondong ke sana. Yang jadi masalah, setelah jadi facebooker, youtuber dan instagramer, kok jadi steemian?

Geleng-geleng kepala!

 

 

Emperom, Desember 2017

Idrus bin Harun

Tinggalkan Balasan