Karya Idrus Bin Harun

Politikakus

Oleh Edi Miswar Mustafa

Dua orang sahabat, saling menerima budi semasa hidup, keduanya berteman sampai ajal menjemput adalah politik yang sukses. Dua sahabat, akhirnya saling tak kenal, padahal usia pertemanan baru seusia tomat, yakinlah itulah tanda bahwa politik yang tidak sukses.

Beginilah kira-kira definisi politik menurut saya. Politik mampu memikat semua orang, khususnya yang mengenalmu plus minus. Jika kau dikenal, tapi orang bergerak menjauh darimu, kau tak perlu terjun ke dunia politik. Karena seseorang yang dapat memengaruhi banyak orang adalah bukti keberhasilan berpolitik.

Foto-foto pertemuan Irwandi Yusuf dan Muzakir Manaf yang beredar di medsos, foto politik. Untuk jangka pendek, foto tersebut bermakna bahwa mereka masih bersahabat. Tensi politik pasca pencoblosan 15 Februari 2017 diharapkan dapat turun stabil. Namun, untuk jangka panjang, pertemuan keduanya merupakan suatu yang sifatnya misteri. Kita semua tahu bagaimana hubungan antarelite GAM di lapangan, tapi kemudian cerai-berai. PNA muncul sekalian dengan makian pengkhianat.

Kenyataannya, debat kandidat cagub-cawagub memberi kita satu kepastian yang sebelumnya memang sudah diketahui umum bahwa gubernur dan wakil gubernur Aceh periode 2012 – 2017 berjalan tak seiring. Zaini menjawab dengan lagak seorang bapak yang bijak–Anda bukan sopir saya–saat Muzakir Manaf bertanya mengapa Doto Zaini sering mengganti ‘kepala dinas’.

Intinya, dalam politik, rumus yang kerap kita lihat adalah bahwa politik tidak mengenal musuh dan sahabat, yang ada adalah kepentingan. Pertemuan keduanya bukan pertemuan sahabat ataupun musuh, tapi pertemuan kepentingan. Minimal upaya final supaya tidak dijatuhkan secara telak dan kasar. Saya percaya, siapa yang merasa nomor urut dua (sampai sekarang keduanya masih saling klaim walaupun KIP dengan datanya menempatkan urutan 6 di atas urutan 5) akan mengajukan satu-dua ‘saham politik’ yang akan mengubah label ‘lawan’ menjadi ‘teman’.

‘Saham politik’ apa kira-kira yang diajukan Muzakir Manaf, misalnya, atau Irwandi? Apakah terkait dengan dana 650 milyar yang kabarnya ditandatangani Muzakir Manaf? Atau ‘saham politik’ lain yang kemudian akan mengubah hubungan keduanya dari ‘lawan’ menjadi ‘teman’.

Publik Aceh tentu bertanya-tanya meskipun yakin keduanya adalah tokoh Aceh. Dan sebagaimana yang terjadi periode sebelumnya, publik selalu telat mengerti akan ‘politik saham’ ini.

Rumah Megah Panglima

Era Irwandi Yusuf (jilid I), masyarakat melihat rumah megah dibangun untuk panglima-panglima wilayah. Rakyat kemudian melihat dan bertanya-tanya: sisa pajak nanggroe-kah atau konsesi politik pasca MoU Helsinki? Sampai sekarang saya belum mendengar ada semacam klarifikasi atau informasi berkenaan dengan tanda tanya rakyat Aceh, baik dari pemerintah Aceh atau pemerintah pusat.

Pasca damai Lamteh 1956, di buku biografi Daud Beureueh yang ditulis menantunya Muhammad El Ibrahimi tercantum konsesi politik berupa kebun teh untuk para panglima di Jawa Barat. Realitasnya kebun teh tersebut menjadi milik pribadi satu dua orang mantan panglima.

Di beberapa tempat di Aceh, muncul lahan sawit milik mantan kombatan. Alih fungsi hutan menjadi lahan produktif kadangkala kita dengar seperti sesayup sampai. Antara kedengaran dan tidak, sebab alih fungsi tersebut melibatkan pihak yang memiliki kekuatan besar.

Di Beuracan, Meureudu, Pidie Jaya, ada ketentuan adat bahwa tiap  masyarakat hanya boleh mengusahakan dua hektar lahan. Pengurusan kepemilikan lahan dari bawah ke atas, dari kampung sampai provinsi. Namun, beberapa oknum luar biasa malah memiliki lahan dengan cara sebaliknya yakni dari atas ke bawah, dari provinsi ke kampung. Sehingga, jangan heran, oknum-oknum ‘ninja’ ini memiliki luas lahan sampai 200 hektar.

Sebagai orang Aceh, saya turut prihatin dengan pertemuan keduanya. Prihatin di sini dalam arti ada ‘kakus’ yang harus mereka tutupi. Prihatin di sini dalam arti yang berlainan adalah ‘pujian ksatria’ karena berani bersua setelah sekian musim ‘saling merindu’. Prihatin ala SBY. Di mulut dan di lapangan berbeda.

Pendek kata, politikakus atau jual beli ‘saham politik’ akan terus berlangsung. Bagi para politikus, bau busuk yang diketahui lawannya merupakan jalan MoU antartokoh politik di belahan dunia mana pun yang ada politikus.

Saya berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa semoga pertemuan keduanya bukan ‘politikakus’. Amin.[]

Edi Miswar Mustafa, orang kampung. Pengangguran yang berniat beli mobil dua tahun lagi. Alamat surel: edimiswarmustafa@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *