IMG 20180310 131906

Telah Sampai Dengan Selamat Sentosa Buku Menelisik Penghidupan Petani Cengkeh

Setelah sejenak memasuki masa keemasan pertanian cengkeh di akhir 1970 dan awal 1980-an, akses para pemilik kebun cengkeh ke lahan tertutup akibat konflik bersenjata berkepanjangan antara gerilyawan GAM melawan TNI. Perang tersebut menyebabkan mereka tidak bisa mengakses lahan-lahan kebun cengkeh mereka sendiri yang umumnya terletak jauh di luar pusat pemukiman, termasuk dalam kawasan hutan di lereng-lereng gunung dan punggung-punggung bukit. Pemberlakuan Daerah Operasi Militer (DOM) pada masa perang saudara itu memutus semua jalur akses pemilik kebun ke kebun-kebun mereka. Akibatnya, selama puluhan tahun, tanaman cengkeh di kebun-kebun tersebut menjadi tak terurus, bahkan sebagian besarnya rusak dan mati. ~ Fawaz, dkk., (2017), Menelisik Penghidupan Petani Cengkeh; Kaji Kasus Lima Provinsi. Yogyakarta: KNPK, hal. 142-143.


PAK POS datang dan teriak, “Uuuukkk… Assalamu’alaikooom… Ada orang?” Serentak dua orang di Bivak Emperom menjawab salam Pak Pos dengan teriakan pula. “Oh, ada orang rupanya. Saya pikir masih pada tidur,” kata Pak Pos sambil senyum semringah. “Minggu kemarin saya antar paket ke sini, saya teriak-teriak salamalaikom, tak satu pun yang jawab. Tahu-tahu ada yang nongol dari atas sambil upie-upie mata manggil pas saya mau balik. Nah, ini ada kiriman paket lagi. Syukurlah siang ini langsung ada yang terima. Hahaha,” kata Pak Pos lagi sambil celingak celinguk ke Bilik Roepa PaskaDOM, ruang pameran Komunitas Kanot Bu yang pada hari-hari biasa dijadikan sebagai ruang makan siang, ngopi sore-malam, jadi ruang main laptop dan mencet-mencet gawai pada siang-sore-malam, dan di hari-hari tertentu lainnya dijadikan kelas tempat berlangsungnya RSJ (Ruang Studi Jama’ah).

“Paket apa, Pak?” “Kayaknya buku. Tolong tulis nama dan tanda tangan di sini ya,” jawab Pak Pos sembari menyodorkan paket dan faktur pengiriman untuk ditandatangan. “O, buku dari Fawaz. Buku Cengkeh ini.” “Memang ada ya buku cengkeh? Saya pikir cengkeh cuma ada di rokok saja, tapi ada di buku juga ya. Hebat betul kalian,” celetuk Pak Pos. Sepertinya Pak Pos ini memang suka berkelakar dari sananya, dan tentu saja harus disambut ramah oleh orang di Bivak Emperom dengan mengajaknya ngopi. Tapi dia menolak dengan alasan harus mengantarkan paket-paket ke beberapa alamat yang lain. Pak Pos pulang meninggalkan paket kiriman yang memang tertuju untuk Komunitas Kanot Bu.

Begitulah. Buku berjudul MENELISIK PENGHIDUPAN PETANI CENGKEH; Kaji Kasus Lima Provinsi tiba di Bivak Emperom, rumah kumpul Komunitas Kanot Bu, ketika siang di Banda Aceh sedang ragu apakah hendak mau hujan atau tidak. Diantarkan oleh seorang pegawai pos yang ramah lagi jenaka, buku sampai kepada kami dengan selamat sentosa, mulus, dan tanpa sedikit pun cela. Kami senang, buku ini tercetak tanpa nomor ISBN. Bukan mengapa, setidaknya buku-buku yang pernah diterbitkan Tansopako Press–lini aksi penerbitan di komunitas, tidak perlu menyesalkan diri atau takut akan kena hukuman pihak penguasa perbukuan.

Kepada Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) kami ucapkan banyak terima kasih. Terlebih juga kepada Fawaz, salah satu penulis buku, yang pernah menyempatkan diri singgah di Bivak Emperom selepas melakukan penelitian di Simeuleu dan Blangpidie sekira dua tahun lalu. Ini buku akan kami lahap dengan seksama, karena kami yakin isinya sangat-sangat berguna bagi pengetahuan kami tentang keberadaan cengkeh di Indonesia, khususnya di Aceh. Di samping pula, kami juga yakin buku ini akan jadi semacam pemantik bagi beberapa anak-anak di KKB yang berkhidmat di lini aksi Tansopako Press untuk sesegera mungkin memulai penelitian ganja di kampung mereka.

Demikian dulu laporan ketibaan buku, untuk resensinya, mungkin menyusul sepekan atau dua pekan nanti.

Sabah beuraya,

Maret 2018 di Emperom.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *